• 09.00 s.d. 18.00

Upaya manusia memanusiakan robot dalam bentuk robot humanoid bisa jadi solusi praktis di masa depan. Namun kenyataannya malah bisa jadi tanda kiamat kecerdasan buatan. Setidaknya kekhawatiran itu pernah diungkap oleh CEO Tesla Elon Musk pada 2017 melalui akun Twitter resmi miliknya. Saat itu dia mengatakan jika tidak dipantau maka kecerdasan buatan pada robot akan jadi tanda-tanda kiamat.“China, Rusia dan semua negara yang memiliki sains computer yang kuat bakal bersaing untuk superioritas Kecerdasan Buatan pada tingkat nasional. Ini bisa menjadi penyebab Perang Dunia Ketiga, menurut pendapat saya,” cuit Elon Musk. Uniknya beberapa tahun berselang, Elon Musk justrutidak bisa menahan senyum saat menghadiri peluncuran robot humanoid pertama buatan Tesla bernama Optimus di acara Tesla AI Day 2022 akhir pekan lalu. Saking bahagianya, berkali-kali pria kelahiran 28 Juni 1971 itu meniru gerakan yang dilakukan Optimus. “Ini baru kali pertama Optimus bergerak sendiri di atas panggung. Sebelumnya kami telah menggunakan robot itu di kantor kami untuk mengantar barang dan menyiram tanaman,” jelas Elon Musk. Optimus memang bukan robot biasa melainkan sebuah robot humanoid. Robot humanoid adalah robot yang menyerupai manusia dalam bentuk dasarnya. Umumnya dibangun dengan struktur fisik dasar dan kemampuan kinetik yang sama dengan manusia, serta memiliki kemampuan kognitif dan keterampilan interaksi social. Intinya robot yang dimanusiakan. Tesla menurut Elon Musk mengembangkan Optimus dengan teknologi canggih. Salah satunya adalah teknologi Full Self Driving (FSD) yang dimiliki Tesla. Teknologi itu memungkinkan mobil-mobil listrik Tesla bergerak otonom. Teknologi itu membuat Optimus kini bisa berjalan sendiri tanpa perlu intervensi manusia. Tanpa perlu adanya perintah dari manusia. Optimus juga mendapatkan teknologi kecerdasan buatan Tesla yang diyakini akan jadi solusi yang dibutuhkan robot-robot humanoid. Saat ini kecerdasan buatan yang dipadukan dengan robot humanoid memang selalu terhambat di titik yang sama yakni sulitnya perintah yang dikeluarkan oleh kecerdasan buatan diterjemahkan kinerja robot yang bersifat mekanis.
“Optimus ini berbeda dengan Tesla yang fokus pada keberlanjutan energi. Robot ini hadir untuk memperlihatkan betapa menariknya masa depan,” ujar Elon Musk. Menariknya lagi Elon Musk justru terlihat ingin mengubah pandangan masyarakat mengenai robot yang dianggap mahal. Jika benar-benar jadi diproduksi massal, Tesla hanya akan menjual Optimus di harga USD20.000 atau setara Rp304,7 juta. “Saya yakin Optimus akan jadi robot yang mengesankan dalam waktu lima hingga sepuluh tahun ke depan,” ujarnya. Tesla dan Elon Musk sebenarnya tidak sendirian dalam mengembangkan robot humanoid. Beberapa perusahaan teknologi seperti Xiaomi, Samsung, Boston Dynamics, ISRO, hingga Cloud Minds sudah lebih dulu mengembangkan robot humanoid.Setiap perusahaan memiliki keunggulannya masing-masing. Tantangannya memang selalu sama yakni integrasi antara kemampuan teknis tinggi dengan kecerdasan buatan. Hanya saja hal itu tidak menghentikan mereka terus berinovasi membuat robot-robot yang layaknya manusia. “Kami telah berinvestasi dalam riset dan pengembangan yang mencakup berbagai bidang, termasuk inovasi perangkat lunak, perangkat keras, dan algoritma. Kami pikir robot cerdas pasti akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di masa depan," kata Lei Jun, CEO Xiaomi Group. Robot-robot itu memang punya peranan penting yang cukup menarik ke depan. Ambil contoh keinginan Elon Musk yang ingin memberdayakan robot humanoid itu di pabrik-pabrik mobil Tesla yang ada di seluruh dunia di bidang teknisi dan logistik.
Bayangkan, robot-robot yang tidak akan lelah bekerja dan tidak pernah akan ngambek seketika dan melakukan aksi demonstrasi. Hebatnya lagi mereka tidak akan dibayar untuk setiap “keringat” yang keluar saat bekerja. Saat ini robot sebenarnya bukan hal baru di pabrik-pabrik. Hanya saja mereka tidak dilengkapi kecerdasan buatan yang membuat mereka hanya bisa melakukan kegiatan repetitif. “Sebagian besar robot yang digunakan di pabrik melakukan pekerjaan yang sangat berulang, sangat spesifik, berorientasi presisi. Dan bukan itu yang kita lihat di masa depan. Kami melihat masa depan di mana robot menjadi jauh lebih cerdas, jauh lebih berguna, benar-benar berkontribusi pada produktivitas dan keamanan serta menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari,” ujar pendiri Boston Dynamics Marc Raibert. Hanya saja nada-nada sumbang mengenai robot humanoid justru tidak bisa dianggap remeh. Thomas Telving, penulis buku Killing Sophia - Consciousness, Empathy and Reason in the Age of Intelligent Robots mengatakan interaksi manusia dengan robot humanoid akan sangat berbahaya karena akan mengubah persepsi manusia akan robot. Bisa jadi manusia akan melihat robot memiliki kepribadian dan kesadaran. “Ketika robot humanoid bergerak ke masyarakat dalam skala besar, banyak dari kita akan cenderung percaya bahwa mereka layak diperlakukan secara moral dan sampai tingkat tertentu diberikan hak yang serupa dengan hak asasi manusia,” ujarnya. Dilema itu yang akhirnya menjadi tanda tanya besar apakah memang robot humanoid ke depannya layak diperlakukan secara moral dan layak diperlakukan seperti manusia. Apalagi jika nanti, layaknya hubungan manusia yang selalu ada konflik, robot humanoid menurut Thomas Telving bisa saja mengalami benturan dengan manusia. Jadi jika Elon Musk berpikir ke depannya tidak akan perlu mengeluarkan uang untuk robot-robot humanoid yang bekerja di pabriknya, tunggu saja sampai akhirnya kecerdasan buatan yang ada di badan robot itu mulai mengerti teori nilai lebih yang dipropagandakan Karl Marx. Bisa jadi saat robot-robot humanoid itu bisa protes, tanda-tanda kiamat yang dikhawatirkan Elon Musk pada 2017 justru bisa saja terlaksana.

 Copyright stekom.ac.id 2018 All Right Reserved